Recents in Beach

Soesilo Toer, S3 di Rusia Jadi Pemulung di Indonesia




Blora – Tidak ada kata terlambat untuk berkarya di usia senja. Masa depan tercipta indah ketika kita mampu memanfaatkan hidup sebaik mungkin. Descrates, seorang filsuf Perancis pernah berkata, “Cogito Ergo Sum – aku berpikir karena aku ada,”. Maka, berpikir adalah cara untuk melukiskan satu persatu bagian hidup.

Meski usianya menginjak 81 tahun, tidak mematahkan semangat seorang Soesilo Toer untuk berkarya. Adik ke-enam dari sastrawan terkenal Pramoedya Ananta Toer ini sudah menerbitkan 20 buku. Menurutnya, menulis adalah pekerjaan yang berat. Jika tidak mampu, maka membacalah. “Setidaknya umurmu masih ada manfaatnya untuk melahirkan anak-anak intelektual demi kebermanfaatan umat manusia,” ungkapnya.

Selama hidupnya, Soesilo tidak terlepas dari BUSULAMI (Buku, Surat Kabar, Majalah dan Menemukan Intisari). Soesilo meyakinkan jika BUSULAMI adalah sumber kecerdasan pada manusia. Mencari pengalaman sebanyak-banyaknya dan menjadi manusia berani adalah tujuan hidupnya. Laki-laki kelahiran 17 Februari 1937 ini, menghabiskan masa tuanya dengan mengurus dunia perbukuan. Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa Pataba (Pataba), yang ia kelola sendiri di rumah masa kecil Pramoedya. Pataba diresmikan pada 30 April 2006 hari wafatnya Pramoedya. Ruangan berukuran 4x5 meter yang terdiri dari 10.000 koleksi buku, menumbuhkan semangat membaca dan menulis pada masyarakat sekitar. Saat ini, Soesilo tinggal di Jalan Sumbawa No. 40 Blora, Jawa Tengah bersama isterinya Suratiyem dan anak tunggalnya, Benee Santoso. Rumah sederhana penuh sejarah itu, Soesilo ingat sekali masa lalu yang menimpa keluarga dan bangsanya. Apalagi, di rumah itu nyaris dibakar saat gegernya tahun 1965.

Soesilo merupakan lulusan S3 bidang Ekonomi dan Politik di Uni Soviet. Ia juga gemar mendalami filosofi ajaran marxisme dan leninisme terutama terkait dengan realisme sosial.  Soesilo adalah pemuda yang cerdas, ia menguasai bahasa Inggris, Rusia, Belanda dan Jerman. Kecerdasan itu membuat wanita keturunan Belgia, Belanda dan Rusia berhasil menjadi pujaan hatinya. Bahkan, Soesilo menyebut dirinya sebagai disglosia, yakni kemampuan menguasai variasi bahasa dalam masyarakat.

Setelah selesai kuliah, Soesilo rela menghabiskan hidupnya dengan memulung. Banyak yang menghina Soesilo selama memulung, tetapi ia balikkan kata itu menjadi sebuah kenikmatan. “Memulung menurut saya adalah kenikmatan abadi, saya tidak merasa melarat. Justru, saya merasa diri saya kaya, kaya pengalaman,” jelasnya. Hidup menurut Soesilo adalah tentang mencari kenikmatan, bukan harta.

Dikenal sebagai sang rektor (korek-korek barang kotor), Soesilo memungut sampah mulai magrib hingga dini hari di perkotaan Blora. Bekerja dengan motor bebek pemberian ponakannya, ia memperoleh Rp 25.000- Rp 30.000 dalam sehari. Semua itu ia lakukan dengan ikhlas menghidupi keluarganya. Manusia harus memiliki fungsi ketika hidup, “Menciptakan nilai lebih. Saya tidak mau makan dari tenaga orang lain, lebih baik saya bunuh diri,” katanya.

Memulung sudah menjadi hal yang wajar bagi Soesilo. Sejak kecil, ia sudah hobi memulung. Soesilo lahir ketika ayahnya mengalami kebangkrutan. “Waktu Pram lahir, keluarga lagi jaya. Ketika saya lahir, ayah saya bangkrut, pemain judi dan kalah dalam politik,” ujarnya mengingat selenting memori dulu. Akhirnya, kebiasaan itu menjadi berlanjut sampai saat ini. Jika Sacrotes mengatakan, “Kematian adalah kenikmatan abadi,” maka Soesilo mengubahnya menjadi, “Memulung adalah kenikmatan abadi,”. Meskipun mendapat beasiswa kuliah di Uni Soviet, ia tetap memulung untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tidak hanya itu, Soesilo juga bekerja menjadi editor, penerjemah dan kuli bangunan sampai kutub utara. Menurut Soesilo, setiap orang harus bisa mempelajari dirinya sendiri, mengenali dirinya dan menciptakan dirinya menjadi manusia sesungguhnya.Bersikap berani dan tidak mudah puas, membuat Soesilo menjadi pribadi yang teguh. “Hidup itu harus berani, hanya orang-orang berani yang bisa menaklukan tiga perlima dunia,” begitulah slogannya.



Posting Komentar

0 Komentar