Recents in Beach

Ismail, Mengelilingi Indonesia dengan Bersepeda Selama 30 Tahun

Pernahkah kita berpikir untuk mengeilingi Indonesia mengendarai sepeda? Rasanya mustahil bukan? Tapi tidak bagi Ismail, pria kelahiran Indramayu tanggal 5 Mei 1969 ini. Ia  memulai perjalanan keliling Indonesia pada 20 Juni 1989 saat usianya masih 20 tahun. Ismail mengatakan bahwa apa yang dilakukan tersebut merupakan merupakan panggilan cita-citanya ketika duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar. “Saya ingin menjadi seorang petualang dan ingin menaklukkan Indonesia,” ucapnya tegas. 

Pada awalnya, Petualangan Ismail  mendapat tantangan dari orangtua dan teman dekat. Teman dekatnya berujar bahwa Ismail terlalu nekat sehingga khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti dirampok atau bertemu hal diluar kemampuan Ismail. “Bahkan lsmail mendengar ada yang mengatakan bagaimana apabila dirinya mengalami kelaparan,” terang Ismail.  

Mengingat hal tersebut, Ismail sang petualang hanya tertawa membalas pernyataan itu. Walau mendapat tantangan tersebut, keinginan yang sangat kuat mengalahkan halang rintang. Akhirnya ia membuktikan dapat bertahan dalam petualangannya terhitung selama 30 tahun. Sampai saat diwawancarai di UIN Malang, Ismail mengungkapkan belum mencapai kepuasaan  batin  karena belum menyelesaikan perjalanan yaitu kembali ke Indramayu. 

Sejak 30 tahun perjalanannya, Ismail telah mengunjungi 297 Kabupaten dan Kota di Indonesia. Selama perjalanan tersebut Ismail mengaku sebanyak 33 sepeda telah dipakai. Menariknya, Ismail juga memperoleh tanda tangan kurang lebih mencapai 3,9 juta buah. Tanda tangan tersebut diperoleh dari organisasi masyarakat, berbagai universitas,  pemerintah di dunia politik, maupun dunia usaha.  

Usaha Ismail mengelilingi beberapa tempat, ia abadikan dalam dokumen pribadinya berupa album. Album dokumentasi yang dimiliki Ismail berupa piagam penghargaan maupun foto bersama tokoh pemerintahan seperti Anies Baswedan dan Ahok (sebelum menjadi Gubernur DKI Jakarta). Album dokumentasi dan tanda tangan merupakan bukti perjalanannya.  

Ismail memulai perjalanan panjangnya mengelilingi Indonesia dari Pulau Bali. Setelah itu  menuju NTB, NTT, Timor Timur, Irian, Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Sumatra, Jabodetabek, dan kembali ke pulau Jawa. “Perjalanan saya dari Sabang sampai Merauke, melalui pulau besar dan kecil di Indonesia,” ungkap Ismail. Semua rute keliling Indonesia tentu menghabiskan biaya yang besar, Ismail mengatakan ia mengeluarkan biaya 300 juta rupiah ketika ke Sumatera.  

Biaya operasional perjalanan itu didapatkan dari google dan youtube, pemerintah daerah,dan orang pertama di Kabupaten/Kota. Ia mengatakan bahwa biaya yang diberikan cukup membantu untuknya dalam meneruskan perjalanan. Suka duka dalam perjalanannya  tak dapat dipisahkan, meski ia diterima dengan antusias oleh masyarakat yang dikunjungi. Dari perjalanannya juga, ia dapat mengetahui informasi ciri khas sosial budaya suatu daerah. Tak dapat dipungkiri bahwa Ismail seringpula menginap di mushola, pom bensin, kantor polisi, masjid, koramil atau dimanapun ketika dirinya merasa lelah. 

Pengalaman yang tak dapat dilupakan oleh Ismail yaitu ketika berada di daerah Indonesia timur yaitu Timor Timur sebelum kini menjadi Timor Leste. Ismail menceritakan bahwa ketika itu ia disandera oleh kelompok separatis. “Dicurigain sebagai mata-mata yang terlalu berani masuk wilayah mereka,” jelas Ismail. Untungnya Ismail bisa lepas dari penyanderaan karena pihak yang membantu seperti pemerintah daerah dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).  

Ismail menuturkan adanya penukaran sandera yang disebut barter antar kelompok separatis dengan pemerintah daerah. “Saya ditukar dengan sandera sejumlah tiga orang,” katanya sambil mengingat.  Perjalanan Ismail yang amatlah panjang, mengelilingi luasnya negara Indonesia. Tanggal 30 Januari 2020, Ismail tiba di Malang dan akan melanjutkan perjalanan menuju Blitar. Setelah itu ia akan kembali ke kampung halamannya, Indramayu.  

Ismail (tengah memegang majalah) saat berkunjung ke UAPM Inovasi UIN  Malang


Pesan kesan indah dituturkan oleh Ismail saat berkunjung ke UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, “Karena ini dunia akademik, calon pemimpin bangsa, saya harap buktikan cinta terhadap tanah air.” Pesannya. Ia menambahkan bahwa calon pemimpin harus bisa berekspresi untuk diri sendiri sebagai bukti cinta terhadap tanah air. “Saya hanya bisa begini untuk mengekspresikan tasa cinta terhadap tanah air, yakni berkeliling dengan bersepeda,” pungkasnya. 

Penulis: Alfian Natus Sa'diyah (Mahasiswi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang) 

Posting Komentar

0 Komentar